Ramadhan Dahulu Vs Ramadhan Kini


Sebenarnya apa sich bedanya ramadhan zaman dahulu sama zaman kita yang modern ini? Nyok… kite intip tulisan ini. Bagi generasi salaf, Ramadhan adalah kesempatan emas untuk mendulang sebanyak mungkin fadhail yang terkandung didalamnya loh…, hal Ini terlihat dari kesungguhan mereka mengisi Ramadhan. Mereka bercita-cita mencapai target yang dicanangkan, yaitu taqwa. Ini menjadi modal utama memperoleh pertolongan AlLah. Didalam sebuah hadits, Aisyah Ra bercerita bahwa Nabi SAW, jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Beliau SAW menghidupkan malam dan membangunkan keluarganya serta bersungguh-sungguh dalam beramal. (Riwayat Muslim). Nah… kalo kamu sendiri? Ramadhan itu seperti apa sich???
                Imam Nawawi menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan tidak tidur demi untuk melaksanakan shalat dan ibadah lainnya. Ibnu Atsir Al Jazari dalam Nihayah Gharib Al Hadits juga menjelaskan bahwa yang dimaksud menghidupkan malam adalah terjaga di malam hari untuk beribadah dan meninggalkan tidur.
RAMADHAN PARA SALAF SHALIH
                Sebagai generasi terbaik yang amat dekat dengan Rasulullah Saw, mujahadah para salaf dalam beribadah tidaklah jauh dengan apa yang diamalkan beliau Saw, apalagi dalam mengisi bulan suci Ramadhan, pastinya.
                Aswad bin Yazin An Nakha’i adalah tabiin ahli ibadah. Abu Nu’aim dalam Al Hilyah menyebutkan bahwa Ibrahim An Nakha’i telah berkata : “Aswad menghatamkan Al Qur’an di bulan Ramadhan dalam dua hari, ia hanya tidur antara maghrib dan isya, dan dia menghatamkan Al Qur’an di luar bulan Ramadhan dalam enam malam.”
                Qatadhah bin Diamah juga seorang tabiin ahli ibadah, ada yang tau? Abu Nu’aim dalam Al hilyah  menyebutkan bahwa Salam bin Abi Muthi’ pernah mengatakan : “Sesungguhnya Qatadah menghatamkan Al Qur’an dalam tujuh malam. Namun jika Ramadhan tiba ia menghatamkan Al Qur’an dalam tiga malam. Dan jika datang sepuluh  terakhir Ramadhan ia menghatamkan Al Qur’an dalam semalam. Subhanallah… kalo kita-kita sanggup ga yah…
                Ibnu Abi Dawud juga meriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa Mujahid, tabi’in yang pernah berguru kepada Ibnu Abbas, menghatamkan Al Qur’an antara maghrib dan isya di setip malam pada bulan Ramadhan. Wow…kerrr..een..
YAKIN AKAN PERTOLONGAN ALLAH
                Kesungguhan para salaf dalam beribadah, lebih-lebih dalam bulan Ramadhan, telah membentuk karakter khusus, yaitu pribadi yang amat yakin dengan pertolongan AlLah Swt. Dan ini adalah faktor penting penyebab turunnya pertolongan AlLah ta’ala.
                Pada hari Badar, Jum’at , 27 Ramadhan tahun ke dua setelah hijrah, Rasulullah Saw. Memandang kearah kaum musyrikin yang berjumlah seribu, sedangkan kaum Muslimin hanya berjumlah 319 mujahid. Nabi Saw menghadap kiblat menegadahkan tangan dan berdoa : “Ya AlLah, buktikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya AlLah, datangkanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau menghancurkan jama’ah Muslim ini, maka tidak ada lagi yang beribadah kepadaMU di dunia ini.” Dan beliau terus menerus bermunajat seraya menghadap kiblat, hingga selendangnya jatuh di kaki beliau.
                Lalu datanglah Abu Bakar Ra. Ia mengambil selendang Rasul Saw dan meletakkan di tempat semula serta mengtakan : “Cukupkan permintaan anda, sesungguhnya Ia akan memberi  apa yang telah Dia janjikan. Tampak sekali bahwa Abu Bakar Ra, amat meyakini datangnya pertolongan AlLah. Begitu juga Rasulullah Saw. Inilah faktor penting yang menyebabkan turunnya pertolongan AlLah Swt.
                Tapi, Ramadhan adalah bulan yang dilebihkan AlLah. So, pada saat itu kondisi Spiritual umat Islam sedang berada di puncak, sehingga tidaklah heran jika Abu Bakar Ra, mempunyai keyakinan dan rasa tawakal yang tinggi terhadap AlLah. Beliau berani menjamin bahwa peperangan itu akan dimenagkan umat Islam.
RAMADHAN KINI
                Memang, sebagian umat Islam benar-benar berusaha mempersiapkan diri untuk menyambut Ramadhan sehingga mereka bisa menjalankan ibadah dengan maksimal. Namun, tidak bisa dipungkiri juga bahwa tidak sedikit umat Islam yang terlalu ‘nyantai’ ketika berhadapan dengan Ramadhan. Mereka melakukan ibadah puasa hanya cukup dengan berhenti makan sejak fajar hingga terbenam matahari Setelah itu, berbagai macam “menu istimewa” sudah tersedia di meja makan. (ato kita juga termasuk yang ‘nyantai’ lagi? He…)
                Tahun 2006 Departemen Perdagangan memperkirakan bahwa pada Ramadhan 1427 H kebutuhan masyarakat akan bahan pokok meningkat antara 10-20%. Ini ironis. Sebab, satu diantara tujuan puasa adalah menumbuhkan perasaan kasih sayang terhadap para fakir miskin dan menekan hawa nafsu. Bagaimana tujuan ini bisa dicapai jika bulan Ramadhan berubah menjadi bulan “makan”???. Nah loh…koq githu…???
                Kita juga gak bisa nutup mata bahwa banyak umat Islam yang lebih suka “istirahat” ketika menjalani hari-hari Ramadhan. Padahal bulan Ramadhan adalah bulan mujahadah, yang mestinya disi dengan aktivitas yang berguna. Bahkan sebagian umat Islam hendak melegitimasi kemalasan dengan hadits : “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah”. Padahal, menurut Hafidz Al Iraqi, tak diketahui siapa sahabat yang meriwayatkan hadits ini. Bahkan, Imam Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin pun tidak mencantumkan siapa sahabat yang meriwayatkan hadits ini, juga orang yang mengeluarkannya.
                Ada juga periwayatan lain tentang hadits ini, tapi tergolong dhoif. Memang, para ulama membolehkan memakai hadits dhoif dalam masalah fadhail dengan beberapa syarat. Namun, tak ada satu ulama pun yang membolehkan memakai hadits dhoif dalam rangka untuk meninggalkan ibadah. So.., dah jelaskan kalo bulan Ramadhan jangan bermalas-malasan haruz.. smangadh.. menggapai target-target Ramadhan, BTW dah pada punya target Ramadhan belom???
                Pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan kaum Muslimin mestinya lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya. Namun, kenyataan yang terjadi dilapangan amat jauh berbeda. Pada masa yang mestinya mereka “tenggelam” dalam ibadah, malah banyak sibuk belanja di pasar-pasar modern dalam rangka “menyambut” Idul Fitri. Fenomena ini merupakan “anugerah” besar bagi para pebisnis. Sehingga, pada sepuluh hari terakhir mereka pun bersaing untuk menggiring umat agar berbondong-bondong menuju mall-mall dengan tawaran discount bervariasi. Padahal pada saat yang bersamaan AlLah sedang mengadakan “cuci gudang dan penggandaan” pahala loh… ada malam lailatul qadr juga lagi…

0 komentar:

Poskan Komentar

hai..hai..hai...
assalamu'alaikum akhi.. ukhti..

setelah sekian lama menunggu..
akhirnya tercipta juga blog resmi kurma...
semoga dengan adanya blog ini semakin kuat juga jalinan ukhuwah diantara kita... (hmm....)
oia..
untuk para sobat kurma yang punya karya tulis ato yang suka nulis, tapi binggung publikasiinnya, kirim email aja ke : kurma.org@gmail.com / asyamz@yahoo.co.id
insya Allah akan kita publikasikan...

segitu dulu yach..
salam kurma...